Ucaplah Ayat Ini Ketika Mengalami Musibah - wannursyarifah

as-Sirah an-Nabawiyah

2017-11-30

Ucaplah Ayat Ini Ketika Mengalami Musibah

Ucaplah Ayat Ini Ketika Mengalami MusibahDan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa yang terbunuh dalam perjuangan membela Agama Allah itu: orang-orang mati; bahkan mereka itu orang-orang yang hidup (dengan keadaan hidup yang istimewa), tetapi kamu tidak dapat menyedarinya.
(Al-Baqarah 2:154)

(Iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: "Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali."
(Al-Baqarah 2:156)

Sesungguhnya,jiwa manusia itu akan disentuh dengan berbagai ujian,dan kerana ujian itu,Allah s.w.t meninggikan darjatnya.

Terkadang Dia memberikan ujian berupa kebahagiaan dan pada saat yang lain Dia juga memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan. Firman-Nya: fa adzaaqaHallaaHu libaasal juu’i wal khaufi (“Oleh kerana itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan.”)(An-Nahl: 112)

Kerana orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut, ujian pada keduanya akan sangat terlihat jelas. Oleh kerana itu Dia berfirman, “Pakaian kelaparan dan ketakutan.”

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah swt. berfirman: bi syai-im minal minal khaufi wal juu-‘i (“Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan.”) wa naqshim minal amwaali (“Dan kekurangan harta.”) ertinya, hilangnya sebahagian harta dari perbagai kejadian seperti bencana alam,kecurian,kemalangan dan lain-lain lagi yang menjadi asbab berlakunya hal demikian. Wal anfusi (“serta jiwa”) misalnya meninggalnya para sahabat, kerabat, dan orang-orang yang dicintai. Wats-tsamaraaat (“Dan buah-buahan.”) iaitu kebun dan sawah tidak dapat diolah sebagaimana mestinya. Sebagaimana ulama mengemukakan: “Di antara pohon kurma ada yang tidak berbuah kecuali hanya satu buah saja.”

Semua hal di atas dan yang semisalnya adalah bahagian dari ujian Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, maka Dia akan memberikan pahala baginya, dan barangsiapa berputus asa kerana maka Dia akan menimpakan seksaan terhadapnya. Oleh kerana itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: wa basy-syirish shaabiriin (“Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang yang sabar.”)

Setelah itu Allah menjelaskan tentang orang-orang yang sabar yang diuji-Nya, dengan firman-Nya: alladziina idzaa ashaabatHum mushiibatun qaaluu innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun (“aitu orang-orang yang apaabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. [Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali].”)


الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Ertinya,dengan kalimat Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un mereka menghibur diri dengan ucapan ini atas apa yang menimpa mereka dan mereka mengetahui dan mengakui bahawa diri mereka adalah milik Allah Ta’ala, la memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, mereka juga mengetahui bahawa Dia tidak akan mensia-siakan amalan mereka meski hanya sebesar biji sawi pada hari kiamat kelak. Dan hal itu menjadikan mereka mengakui dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan-Nya, dan mereka akan kembali kepada-Nya kelak di akhirat. Oleh kerana itu, Allah swt. memberitahukan mengenai apa yang diberikan kepada mereka itu, di mana Dia berfirman: ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) ertinya, pujian dari Allah Ta’ala atas mereka. Dan menurut Sa’id bin Jubair, “ertinya, keselamatan dari azab.”

Firman-Nya: ulaa-ika Humul muHtaduun (“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”) Amirul Mu’minin Umar ra. mengatakan: “Alangkah nikmatnya dua balasan itu, dan betapa menyenangkan [anugerah] tambahan itu.” ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) inilah tambahan. Mereka itulah orang-orang yang diberi pahala-pahala dan diberikan pula tambahan.

Mengenai pahala mengucapkan “Innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun” ketika tertimpa musibah telah banyak dimuat di banyak hadits. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ummu Salamah ia bercerita, pada suatu hari Abu Salamah mendatangiku dari tempat Rasulullah saw. lalu ia menceritakan, aku telah mendengar ucapan Rasulullah saw. yang membuatku merasa senang, beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang dari kaum Muslimin ditimpa musibah, lalu ia membaca 'innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un' kemudian mengucapkan, (Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti padaku yang lebih baik darinya) melainkan akan dikabulkan doanya itu.” Ummu Salamah bertutur, kemudian aku menghafal doa dari beliau itu, dan ketika Abu Salamah meninggal dunia, maka aku pun mengucapkan, innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, dan mengucapkan, ‘Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya.’ Kemudian diri, dengan bertanya, “Dari mana aku akan memperoleh yang lebih baik dari Abu Salamah?” Setelah masa iddahku berakhir, Rasulullah izin kepadaku. Ketika itu aku sedang menyamak kulit milikku, lalu aku mencuci tanganku dari qaradz (daun yang digunakan menyamak).
Lalu kuizinkan beliau masuk dan kusiapkan untuknya bantal tempat duduk yang isinya dari sabut, maka beliau pun duduk di atasnya. Lalu beliau menyampaikan lamaran kepada diriku. Setelah selesai beliau berbicara, kukatakan, “Ya Rasulullah, keadaanku akan membuat Anda tak berminat. Aku ini seorang wanita yang sangat cemburu, maka aku takut Anda mendapatkan diriku sesuatu, yang kerananya Allah akan mengazabku, dan aku sendiri sudah tua dan mempunyai banyak anak.” Maka beliau bersabda, “Mengenai kecemburuanmu yang engkau sebutkan, maka semoga Allah melenyapkannya dari dirimu. Dan usia tua yang engkau sebutkan, maka aku pun juga mengalami apa yang engkau alami. Dan mengenai keluarga yang engkau sebutkan itu, maka sesungguhnya keluargamu adalah keluargaku juga.”

Maka Ummu Salamah menyerahkan diri kepada Rasulullah saw. lalu beliau menikahinya, dan setelah itu Ummu Salamah berujar: “Allah telah memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah,iaitu Rasulullah saw.

Dalam kitab Shahih Muslim disebtukan bahawa Ummu Salamah mengatakan: aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan: innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya; melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya dalam musibah itu dan memberikan ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.” Kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal, maka aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, maka Allah Ta’ala memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah A. (HR. Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Fatimah binti Husain, dari ayahnya, Husain bin Ali, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim, lelaki mahupun perempuan ditimpa suatu musibah, lalu ia mengingatnya, meski waktunya sudah lama berlalu, kemudian ia membaca kalimat istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un) untuknya, melainkan Allah akan memperbaharui pahala baginya pada saat itu, lalu Dia memberikan pahala seperti pahala yang diberikan-Nya pada hari musibah itu menimpa.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah; Dha’if sekali; Dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jaami’ [5434]

No comments:

Post a Comment