Biografi Khalid al Walid Bahagian II - wannursyarifah

as-Sirah an-Nabawiyah

2017-09-05

Biografi Khalid al Walid Bahagian II

Biografi Khalid al Walid Bahagian II


Biografi Khalid al Walid Bahagian IIKhalid bin Al-Walid senantiasa belajar tentang keterampilan berperang bersamaan dengan mengasah kemampuannya menunggang kuda, belajar menggunakan berbagai jenis persenjataan seperti tombak, lembing, anak panah, dan pedang lainnya. Ia juga belajar berperang menggunakan tombak dan pedang di atas punggung kuda dan ketika berjalan kaki.
Kepintaran Khalid dalam mengendalikan kuda dapat dilihat dari keluarganya iaitu Bani Makhzum yang merupakan bahagian dari suku Quraisy yang arif dalam mengendalikan kuda di Jazirah Arab. Selain itu Bani Makhzum juga telah mempersiapkan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya Khalid sebagai komander perang ternama. Dari ayahnya Khalid bin Al-Walid mendapat pelajaran pertama tentang seni dan strategi berperang. Dia belajar bagaimana bergerak dengan cepat di tengah  gurun pasir, bagaimana melancarkan serangan terhadap musuh-musuhnya dan mempelajari erti penting menawan musuh ketika terjadi perang dan melakukan serangan tanpa disangka-sangka. Begitu juga dengan pengejaran dan strategi perang bergerilya.
Ketika Khalid bin Al-Walid sampai pada usia dewasa, maka fokus utama perhatiannya tertumpu pada perang dan bahagian perhatian ini kemudian lebih mendominasi pikirannnya secara signifikan. Khalid banyak menghadapi berbagai pertempuran dan senantiasa meraih kemenangan besar, dan ia pun menjadi pahlawannya. Semua itu mampu diraihnya disepanjang hidupnya pada masa jahilliya sebelum masuk Islam[23].
Dari semua latihan yang Khalid terima dan ia pelajari dari kecil hingga pada usia dewasa membuat Khalid semakin ahli dalam berperang melawan dengan musuh-musuhnya. Sehingga Khalid dapat menerapkannya dan selalu meraih kemenangan di perang-perang yang pernah ia ikuti.
Pertempuran pertama yang diikutinya bersama kaum Quraisy dalam memerangi kaum Muslim adalah Perang Uhud yang terjadi tahun ketiga Hijrah pada hari sabtu tanggal tujuh bulan Syawal, tiga puluh bulan setelah Nabi Muhammad berhijrah. Uhud merupakan sebuah nama pegunungan yang berada di Madinah. Perang Uhud ini merupakan serangan balas dendam terhadap pasukan umat Islam kerana kaum Quraisy yang telah kalah dalam perang sebelumnya iaitu Perang Badar yang dimenangkan oleh umat Islam.
Kaum kafir Quraisy berhasil menyusun kekuatan yang terdiri dari tiga ribu anggota untuk menyerbu Madinah Jumlah tersebut sudah termasuk  seratus orang lelaki dari Bani Tsaqif. Mereka pergi dengan penuh persiapan dan penuh persenjataan. Mereka menggiring dua ratus ekor kuda dan membawa tujuh ratus perisai serta tiga ribu ekor unta[24], dan Abu Sufyan bertindak sebagai panglima perang[25]. Kaum perempuan Quraisy juga ikut serta dalam perang tersebut,jumlah  mereka sebanyak lima belas orang dan bersama suami
mereka. Isteri-isteri mereka sebagai penjaga agar mereka mereka  tidak melarikan diri dari medan perang. Abu Sufyan bin Harb sang komandan beserta isterinya, Hindun bintu Utbah. Ikrimah bin Abu Jahal bersama istrinya, Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah.Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah bersama isterinya, Fathimah binti Al-Walid bin Al-Mughirah.Shafwan bin Umaiyah bersama isterinya,Barzah binti Mas‟ud    bin Amr[26]  bin Umair Ats Tsaqafi. Amr bin Al-Ash bersama isterinya,Barithah bin Munabbih bin Al-Hajjaj. Thalhah bin Thalhah bersama isterinya, Sulafah binti Sa‟ad bin Syuhaid Al-Anshariyah dan lainnya. Khalid bin Al- Walid dilantik untuk memimpin pasukan di sayap kanan, sedangkan Ikrimah bin Abu Jahl memimpin pasukan di sayap kiri. Pada sayap tersebut mereka memiliki seratus ekor kuda.Abdullah bin Abu Rabi‟ah ditugaskan memimpin pasukan pemanah, dan ada pasukan dengan jumlah seratus orang yang handal   melempar tombak.[27]

Pasukan umat Muslim dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah mulai mengatur para pengikutnya dalam barisan. Beliau menempatkan pasangan pemanah sebanyak lima puluh orang di,Ainain, dan melantik Abdullah bin Juabair untuk memimpin pasukan tersebut.[28] Rasulullah SAW memerintahkan, “lindungi kami dari belakang, kerana kami bimbang akan ada yang datang dari arah belakang kami, dan tetaplah  di tempat kalian berada dan jangan pernah tinggalkan tempat ini. Bahkan jika kalian
melihat kami berhasil menyerang balas musuh dan memasuki perkemahan mereka, jangan berganjak sedikit pun dari kedudukan kalian. Jika kalian melihat kami terbunuh, jangan maju untuk membantu atau membela kami.Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu atas mereka! Hujanilah kuda-kuda mereka  dengan anak panah,kerana sesungguhnya kuda-kuda itu tidak akan berani maju menghadapi serangan anak panah!”[29]. Pasukan berkuda dari umat Islam dalam perang Uhud berjumlah lima puluh anggota.
Dalam peperangan ini Allah mendatangkan pertolongan-Nya kepada umat Islam serta menepati apa yang dijanjikannya oleh-Nya. Sehingga  dibabak awal pertama, kemenangan ada di pihak umat Islam. Namun ketika kaum musyrik di ambang kekalahan, kaum Muslim ternyata bergerak mengikuti Nabi dan para sahabatnya, dan meletakkan senjata yang mereka pegang di tempat yang mereka suka, dan turun ke bawah untuk menjarah isi kemah. Para  sahabat menjadi tamak, hingga Allah SWT berfirman, diantara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat. (Ali Imran [3]:152). Pasukan yang ditugaskan membentuk barisan pemanah yang berada di atas bukit tergoda untuk turun. Melihat pasukan tersebut, komandan mereka Abdullah bin Jubair memperingatkan agar mereka tidak membantah perintah Rasulullah tetapi mereka tidak mematuhi dan tetap pergi. Sedangkan Abdullah bin Jubair tetap berada di tempatnya bersama orang-orang yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh pemanah.Ini dikerana mereka menganggap bahawa orang-orang Musyrik telah kalah dan mereka turun untuk mengambil ghanimah (harta rampasan perang).
Khalid bin Al-Walid memandang ke arah pegunungan bukit yang sepi dari para pemanah dan hanya beberapa orang yang bertahan di sana. Maka Khalid bin Al-Walid segera melakukan tindakan cepat bersama Ikrimah bin Abu Jahal. Mereka menyerang para pemanah yang masih bertahan. Regu pemanah dari kubu Muslim melepaskan tembakan anak panah sampai mereka tidak dapat menahan derasnya serangan dari pihak musyrikin. Pasukan Muslim dalam keadaan tidak siap, sehingga pasukan musuh dapat membunuh dengan cepat dan mereka meninggalkan harta rampasan dan melarikan diri dari kejaran pasukan. Abdullah bin Jubair melepaskan setiap anak panaknya sampai habis tak tersisa lalu menggunakan tombak  sampai  hancur,  kemudian  menggunakan  pedang  sampai hancur.Ia bertempur  hingga gugur menjadi syahid[30].Kuda-kuda pasukan Khalid
menerobos masuk umat Islam dari arah belakang hingga menyebabkan kecemasan luar biasa dikalangan umat Islam. Akibatnya, umat Islam tercerai berai dan lari ke sana kemari seraya meninggalkan ghanimah yang telah mereka ambil dan juga tawanan perang.
Dengan kejadian tersebut akhirnya kemenangan Perang Uhud diperoleh oleh Kaum kafir Quraisy. Kemenangan ini berkat kegeniusan Khalid bin Al- Walid yang dapat melihat kesempatan dan mampu mengubah kekalahan Quraisy menjadi sebuah kemenangan atas umat Islam. Selain Perang Uhud, Khalid bin Al-Walid juga turut ikut serta didalam Perang Khandaq untuk melawan umat Islam. Setelah itu di masa Perjanjian Hudaibiyyah Khalid masuk Islam karena dorongan dari hatinya dan mendapat surat dari saudara yaitu Al-Walid bin Al- Walid.


Khalid bin Walid Masuk Islam


Pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah saat Rasulullah SAW dan kaum Muslimin mengunjungi Masjidil Haram, Khalid dengan bala tentaranya bermaksud menghalau Rasulullah SAW beserta kaum Muslimin dari Masjidil Haram. Akan tetapi Khalid menemukan mereka sedang melakukan shalat berjama‟ah bersama Nabi SAW sebagai imam mereka. Pemandangan inilah yang kemudian hati Khalid bergetar serta menimbulkan kesan yang sangat dalam pada jiwanya.

Diceritakan bahawa peristiwa Umrah Qadha, Khalid bin Al-Walid telah pergi meninggalkan Makkah. Khalid bin Al-Walid berkata:

"Ketika Allah mengharapkan kebaikan dariku, Dia memancarkan kasih sayang Islam ke dalam hatiku.Sebab merasuki fikiranku, dan aku berkata, “Aku telah menyaksikan tiga perang, yang semuanya melawan Muhammad. Di setiap pertempuran yang kusaksikan, aku pulang dengan perasaan bahawa aku berada di sisi yang salah, dan bahawa Muhammad pasti akan menang.” Saat  Rasulullah pergi ke Hudaibiyah, aku pergi bersama pasukan kaum musyrik dan menemui Rasulullah dan pengikutnya di Usfan. Aku berdiri di barisan depan, dan melawannya. Tetapi ia lantas melakukan solat Zuhur dengan pengikutnya, dan mereka aman dari kami, meskipun kami sedang berencana menyerangnya, dan kami tidak dapat melakukan serangan terhadapnya.Ada kebaikan dalam diri beliau, dan kami melihatnya dengan mata hati kami. Saat ketakutan beliau melakukan solat pada waktu Asar, bersama dengan pengikutnya. Hal ini mengesankan bagiku, dan aku berkata, “Lelaki (Rasulullah s.a.w) ini dilindungi.”

Kami berpisah dan beliau mengambil jalur yang menyimpang  dari pasukan berkuda kami dan mengambil jalan ke kanan[31].

Saudaraku Walid bin Al-Walid masuk ke dalam Mekkah bersama Nabi, di saat „Umrah Qadiyya. Ia mencariku, tetapi tidak dapat menemukanku, jadi dia menulis surat untukku. Surat itu berbunyi, “Dengan nama Allah yang  Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Dan kata berikutnya, “Aku tidak melihat hal yang lebih ganjil daripada melihatmu terus menjauhi dari Islam. Kau punya pemikiran yang begitu baik.Adakah seseorang tidak melihat Islam? Rasulullah bertanya kepadaku tentangmu. Beliau bertanya,Di mana Khalid? Aku menjawab,Allah akan menuntunnya.‟ Rasulullah berkata,sepertinya tidak ada orang yang akan mengabaikan Islam. Sesungguhnya, akan lebih baik jika dia menaruh kecerdasan dan keteguhannya bersama kaum Muslim, dan bukan bersama kaum Musyrik. Kami akan memilihnya di atas orang-orang lain, atau kami akan menjadikannya pemimpin atas oarang-orang lain. Jadi, fahamilah, wahai saudaraku, apa yang sedang melewatimu saat ini. Banyak kesempatan baik yang telah terlewatkan olehmu”.
Saat suratnya tiba di tanganku, aku menjadi ingin pergi keluar. Suratnya menambah tertariknyaku terhadap Islam dan kata-kata Nabi membuatku senang. Khalid mengatakan: aku bermimpi, aku sedang pergi dari tanah yang penuh najis dan memperihatinkan, dan datang ke tanah yang hijau subur dan luas. Aku menceritakan mimpi itu kepada Abu Bakar, dan ia berkata, “Tujuan yang ditunjukkan Allah kepadamu adalah Islam. Kemiskinan yang melandamu sebelumnya disebabkan oleh kemusyrikan”.


Perjalanan Khalid al Walid Dari Mekah Ke Madinah


Ketika aku bertekad untuk menemui Rasulullah aku bertanya, “siapakah yang menemaniku bertemu dengan Rasulullah?” Lalu aku bertemu dengan Shafwan bin Umayyah dan aku mengajaknya tetapi Shafwan menolak pelawaanku, kemudian aku berjumpah dengan Ikrimah bin Abu Jahal dan aku mengajaknya seperti pelawaanku kepada Shafwan, dan ia pun juga menolak sama dengan Shafwan. Lalu aku berkata kepadanya, “Lupakanlah apa yang aku katakan padamu ini.” Ia berkata, “Aku tidak akan menyebutnya lagi.” Aku masuk ke dalam rumahku dan memerintahkan agar tungganganku disiapkan. Aku lalu pergi bersamanya sampai bertemu dengan Ustman bin Thalhah. Aku berfikir: sungguh, dia adalah seorang kawan. Aku akan mengutarakan niatku kepadanya. Aku menyebutkan kerabatnya yang terbunuh sebelumnya, meskipun aku tidak suka mengingatkannya akan hal itu. Setelah itu, aku bertanya: apa yang terjadi kepadaku? Aku harus pergi ketika ini juga, aku menyebutkan bagaimana masalah ini telah mempengaruhinya, dan kataku: Jelas, kita bagaikan musang yang berada di dalam lubang. Jika ada sebaldi air dituang ke dalam lubang itu, musang tersebut akan pergi.
Ia segera menjawabku, “Sungguh, aku akan berangkat hari ini, dan aku pun ingin pergi. Tetapi tungganganku tertahan di Fakh.” Ia mengatakan: aku  bersepakat  dengannya  untuk  bertemu  di  sekitar  Ya‟jaj.  Jika  ia  pergi terlebih dahulu, dia akan menungguku, dan jika aku yang berangkat lebih  dulu, aku akan menunggunya. Ia mengatakan: Kami berangkat saat larut malam, dibahagian terakhir malam, dan fajar belum lagi terbit saat kami sampai di Ya‟jaj. Kami bergerak hingga sampai tiba di Hadda, dan menemukan Amr bin Ash di sana.


Pertemuan Khalid al Walid Dengan Amr al Ash


Ia berkata, Assalamu’alaikum.” Dan kami menjawab, Dan kepadamu.” Dia bertanya, Apa tujuan kalian?” kata kami, “Apa yang membuatmu ada di sini?” ia membalas lagi. “dan apa yang menyebabkan kalian pergi?” Kami menjawab, “kami ingin memeluk Islam dan mengikuti Muhammad.” Ia berakata, “itu juga menyebabkanku melakukan perjalanan ini.” Kemudian kami berjalan bersama-sama sampai kami tiba di Madinah, dan lantas mengistirahatkan kenderaan kami di Harrah. Rasulullah telah diberitahu mengenai kedatangan kami dan beliau bersuka cita mendengar khabar tersebut. Aku menggenakan salah satu pakaian terbaikku dan datang ke hadapan Rasulullah. Saudaraku menyambutku. Ia berkata, “Cepatlah, Rasulullah telah diberitahu tentang kedatanganmu dan beliau bersuka cita atas kehadiranmu, dan sedang menanti dirimu.” Aku berjalan bergegas, dan datang kepada  beliau. Beliau terus tersenyum, sampai aku berhenti di hadapannya.
Aku memberikan salam dan menyatakan berserah pada kenabiannya. Beliau membalas salamku dengan wajah gembira. Aku lantas berujar, Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan bahawa engkau adalah utusan- Nya.” Beliau berkata, “segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kepadamu. Aku telah mengetahui kecerdasanmu dan berharap Islammu hanya akan menuai kebaikan.” Aku menjawab, ya Rasulullah, engkau melihatku apa yang kusaksikan tempat-tempat penentangan atasmu berlangsung: orang-orang yang keras kepala menolak kebenaran.Bolehkah engkau meminta kepada Allah untuk mengampuniku?” Rasulullah menjawab,Islam meninggalkan apa yang terjadi sebelum Islam. Kataku lagi. “Ya Rasulullah sejak saat itu?”  maka beliau berkata lagi, “Ya Allah, mohon ampunilah Khalid, dan semua yang pernah dia lakukan dalam merintangi orang-orang di jalan-Mu.”
Kemudian Amru dan Ustman maju kedepan dan keduanya dibaiat Rasulullah. Kedatangan kami di Madinah adalah pada bulan Safar tahun 8 H. Demi Allah, Rasulullah berada sama tinggi denganku, sama dengan posisi beliau dengan sahabatnya tentang apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Sejak aku masuk Islam Rasulullah tidak pernah     meninggalkanku ikut bermusyawarah (bermesyuarat) dalam urusan-urusan yang dihadapinya[32].

Khalid bin Al-Walid memulakan hidup baru dalam masyarakat Islam di Madinah setelah ia masuk Islam, sementara perjanjian damai Hudaibiyyah masih berjalan. Perdamaian ini terus berjalan sampai pada tahun 8 H, Khalid masuk Islam pada awal bulan Safar dan ikut dalam Perang Mu‟tah, dua bulan sebelum penaklukan kota Makkah. Perang Mu‟tah ini adalah perang pertama yang diikuti oleh Khalid setelah ia masuk Islam. Dalam perang ini Khalid belum diangkat sebagai panglima atau ditugasi sebagai pemimpin oleh Rasulullah.
Pasukan Islam berjumlah 3000 pejuang, di antara mereka adalah Khalid bin Al-Walid. Rasulullah memberikan panji perang kepada tiga orang dan menjadikan komandernya secara berurutan. Rasululah bersabda, “Zaid bin Haritsah kutunjuk menjadi komandan pasukan; jika Zaid terbunuh, maka Ja’far bin Abi Thalib akan menggantikannya; dan jika Ja’far terluka, Abdullah bin Rawwahah yang akan menggantikannya. Apabila Abdullah juga terluka, maka kaum Muslim (melantik pemimpin hasil musyawarah dikalangan mereka) akan bagi melantik seorang lelaki dan menjadikannya pemimpin mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)[33]


Perang Mu'tah


Pasukan Islam telah bersiap dan mulai berjalan keluar pada hari Jumaat tahun 8 H. mereka berjalan sampai mereka tiba di sebuah desa di negeri Syam yang bernama Ma‟an. Mereka mendapatkan khabar bahawa Heraklius telah berada di Ma‟ab di tanah Al-Balqa‟ bersama 100.000 pasukan Roma lalu ikut bergabung bersama 100.000 pasukan dari kabilah-kabilah Arab yang menjadi sekutu mereka, sehingga jumlah keseluruhan pasukan Heraklius 200.000 tentera.
Dua pasukan akhirnya bertemu dan terjadilah pertempuran sengit antara dua belah pihak. Panglima pasukan Islam yang pertama terbunuh adalah Zaid bin Haritsah dalam keadaan maju ke depan. Kemudian Ja‟far bin Abi Thalib mengambil bendera dengan tangan kanannya menggantikan posisi Zaid. Tangan kanan Ja‟far terputus, lalu ia mengambil bendera dengan tangan kirinya, tangan kirinya pun terputus, lalu ia meletakkan (panji islam) dalam pangkuannya sampai ia gugur di medan perang.Kemudian Abdullah bin Rawahah mengambil bendera dan maju menaiki kudanya. Lalu ia maju ke depan melanjutkan berperang sampai ia gugur di medan perang sebagai syuhada[34].
Kemudian Tsabit bin Arqam bin Tsa‟labah Al-Anshari mengambil bendera dan mulai berseru kepada kaum Anshar, dan orang-orang datang mendekatinya dari berbagai arah, tetapi hanya sedikit. Lalu ia berkata, “ikutlah bersamaku, pasukan!” dan mereka berkumpul di dekatnya. Ia mengatakan: Tsabit melihat ke arah khalid dan berkata, “Abu Sulaiman, ambilah bendera ini.” Khalid menjawab, Tidak, aku tidak akan mengambilnya,kerana engkau lebih pantas memegangnya daripada aku. Kaulah orang yang lebih senior di antara kita, dan kau juga yang ikut dalam Badar.” Tsabit berkata, “Ambillah kau, kerana, Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kecuali untukmu”. Pasukan menyetujui atas Khalid bin Al-Walid. Kata Tsabit, “Apakah kalian sepakat dengan Khalid?” Mereka menjawab, “Ya”. Maka Khalid mengambil bendera itu dan orang-orang melihatnya dan Khalid langsung memimpin pasukan untuk berperang[35].


Khalid al Walid Menggunakan 10 Pedang 


Mengawali kepemimpinannya dalam Perang Mu‟tah, Khalid bin Al- Walid berkata, “Beri aku sebilah pedang!” Mereka memberinya. “lindungi belakangku!”. Pedang pertama yang dipergunakan oleh Khalid patah. Pedang kedua diserahkan dan ternyata patah juga, lalu pedang ketiga dan seterusnya. Dalam pertempuran itu tidak kurang dari 9 buah pedang dipergunakan oleh Khalid bin Al-Walid dan pedang yang terakhir digunakan iaitu pedang Yaman.Khalid menghimpun seluruh  pasukan dan mengeluarkan seluruh pasukan dan mengeluarkan maklumat, “kita harus menyusun ulang barisan.” Tetapi, ia kemudian mengatakan, “kita tidak akan menarik undur kekuatan sekaligus. Kerana jika tentara Rom mencium muslihat ini, mereka pasti akan memburu kita.” Malam itu mereka merundingkan perubahan taktik perang.Unit tempur di barisan terdepan ditarik ke belakang, sayap kanan bertukar posisi dengan sayap kiri. Seratus orang pejuang diperintahkan untuk keluar dari medan tempur dengan diam-diam. Khalid berpesan, “setelah itu, masuklah kembali ke medan perang sepuluh demi sepuluh sambil  meneriakkan takbir, sehingga musuh mengira bahawa mereka adalah bala bantuan yang didatangkan dari Madinah.”
Pada pagi hari, pertukaran posisi dilakukan, dan bersamaan dengan itu, sepuluh anggota pasukan berkuda memasuki medan tempur seraya mengumandangkan takbir. Khalid meminta pasukan berkuda untuk membuat debu bertebaran dan suara detak kaki kuda yang keras. Debu membumbung tinggi ke angkasa. Sepuluh pasukan berkuda kedua menyusul dan diikuti oleh unit-unit tempur berikutnya. Sehingga pasukan Rom mengira pasukan Islam telah mendapat bala bantuan dan semangat mereka menjadi luntur. Pasukan Rom mundur, dan Khalid bin Al-Walid menarik pasukannya dari medan
pertempuran[36] dan peperangan pun telah berakhir.

Rasulullah diperlihatkan oleh Allah adegan Perang Mu'tah, lalu Rasulullah memberitahukannnya kepada para sahabatnya. Beliau bersabda, “Wahai manusia, telah dibukakan pintu kebaikan (Nabi mengulangnya tiga kali) aku khabarkan kalian tentang pasukan kalian yang sedang berperang ini. Mereka telah bergerak dan bertemu dengan musuh, Zaid telah gugur sebagai syahid, maka mintalah ampunan untuknya. Kemudian Ja’far bin Abi Thalib mengambil bendera lalu ia gugur sebagai syahid, maka mintalah ampunan untuknya. Kemudian Abdullah bin Rawahah mengambil bendera dan terus bertahan sampai ia gugur sebagai syahid, maka mintalah ampunan untuknya. Kemudian Khalid bin Al-Walid mengambil bendera dan ia bukan salah seorang panglima perang, ia adalah pemimpin dirinya sendiri, tetapi ia adalah pedang Allah yang kembali dengan membawa kemenangan.”

Anas bin Malik meriwayatkan sebagai berikut:

Ertinya: “sesungguhnya Rasulullah saw. memberitahukan kepada orang banyak tentang kematian Zaid, Ja’far dan Abdullah bin Rawahah sebelum ada seorang pun yang membawa khabar kematian mereka.” Nabi berkata “  bendera dipegang oleh Zaid ia terbunuh. Selanjutnya bendera itu dipegang Ja’far sampai ia terbunuh. Setelah itu bendera dipegang oleh Abdullah bin Rawahah sampai ia terbunuh. Selanjutnya bendera itu dipegang oleh salah satu daripada pedang Allah (Khalid) sampai Allah memberikan kemenangan. (HR. Bukhari).


Andai kita memahami makna 'Pedang Allah',alangkah sangat baik.Panji dipegang oleh Khalid bin Al-Walid berdasarkan kesepakatan sahabat, bukan Rasulullah. Sejak itulah Rasulullah memberi gelaran kepada Khalid sebagai Saifullah Al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). (HR. Bukhari).

Sejak saat itu Khalid sering ikut berperang di barisan kaum Muslim untuk membela Islam bersama Rasulullah. Setelah pembebasan kota Makkah (penggunaan pembebasan adalah lebih seimbang berbanding penggunaan penaklukan,ini kerana,kedatangan islam bukan untuk merampas kekuasaan,namum membebaskan masyarakat daripada belenggu jahiliah dan kepercayaan karut selain menjadikan Allah s.w.t sebagai tuhan yang Esa dan islam adalah agama yang satu) Rasulullah mengutus Khalid untuk menghancurkan berhala Uzza dan  beberapa perang di masa Rasulullah lainnya. Khalid juga ikut serta dalam berbagai misi perluasan wilayah islam pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Al-Khatab.

Wafat Khalid bin Walid.

Setelah masuk Islam, Khalid menjalani hidupnya dengan mengikuti banyak pertempuran demi mendapatkan kesyahidan. Ia sering mengancam musuh-musuhnya dengan mengatakan bahawa ia memiliki orang-orang yang siap untuk mati ataupun hidup. Dalam banyak pertempuran yang ia ikuti, Khalid selalu selamat dari kematian.
Khalid pernah dilengserkan sebanyak dua kali. Yang pertama ia pernah digantikan (jawatan diganti oleh orang lain) dari jabatannya dari komandan pasukan dalam Perang Yarmuk. Yang kedua ia pernah digantikan oleh Umar bin Al-Khatab dari wilayah Qansarin yang dikuasakan kepadanya oleh Abu Ubaidah sebagai bentuk pembahagian ghanimah yang dilakukan dengan tanpa merujuk terlebih dahulu kepada sang khalifah. Setelah digantikan, Khalid menghabiskan hari-harinya di rumah miliknya yang berada di kota Homs. Ia hidup di sana selama empat tahun bersama keluarga besarnya. Empat puluh putranya meninggal dunia saat terjadi wabah penyakit menular.[37] Wabah penyakit Amwas (penyakit taun yang melanda syam) telah menyerang anak-anak Khalid hingga meninggal. Wabak ini terjadi di sebuah perkampungan kecil di Palestin terletak di antara Ramallah  dan     Baitul Maqdis. Wabak ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khathab tahun 18 Hijrah pasca penaklukan Baitul Maqdis. Wabak ini juga menyebabkan sejumlah sahabat Nabi meninggal diantaranya; Abu Ubaidah, Mu‟adz bin Jabal, Yazid, dan Dharrar.[38]
Perjalanan hidup Khalid bin Al-Walid berakhir dengan munculnya surat pengantian dirinya dari wilayah Qansarin sebagai komandan tentera pada tahun 17 H[39]. Khalid menderita sakit ketika berumur 58 tahun, penyakit tersebut berlangsung cukup lama dan membuat keadaan kesihatanya semakin memburuk. Ia senantiasa terbaring di atas tempat tidurnya.
Saat ajal menjelang, Khalid bin Al-Walid merasa ada sesuatu yang selalu merisaukan fikirannya, iaitu bila ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh umurnya di atas punggung kuda perangnya, dan dibawah kilatan pedangnya. Dan ia sempat berkata “Aku telah berjuang dalam banyak pertempuran demi mencari kematian secara syahid. Tidak ada tempat di anggota tubuhku ini melainkan terdapat bekas luka tebasan pedang, tusuk dari tombak,bekas luka terkena anak panah. Meski demikian, inilah aku sekarang, aku akan mati di tempat tidur seperti seekor unta tua yang mati. Semoga mata para pengecut tidak pernah tertidur.” Melihat kata- kata tersebut sungguh Khalid sangat mengharapkan mati syahid di medan pertempuran.

Mendengar hal itu salah satu teman lamanya yang pada saat itu sedang menziarahnya berkata kepadanya, “Wahai Khalid, kamu harus tahu bahawanya pada saat Rasulullah memberimu gelaran dengan sebutan pedang Allah, sesungguhnya itu menjadi ketetapan bagimu untuk tidak meninggal di medan perang. Seandainya engkau meninggal di tangan orang kafir, maka itu ertinya pedang Allah telah berhasil dipatahkan oleh musuh Allah, dan itu tidak akan mungkin terjadi.” Mendengar hal itu fikiran Khalid menjadi tenang, Khalid pun akhirnya  terdiam,  dan beberapa saat  kemudian teman lamanya itu  pergi
meninggalkannya.[40]

Khalid bin Walid pun akhirnya wafat, semua orang menagis. Air mata mengiringi kepergian jenazah Khalid yang diusung di atas di atas pundak ke peristarehatan terakhir. Ibu Khalid memandangnya dan meratapi jenazahnya lalu berkata,
Engkau lebih baik daripada jutaan orang kerana engkau berhasil membuat wajah mereka tunduk Soal keberanian, engkau lebih berani daripada singa betina Yang sedang mengamuk melindungi anaknya,Soal kedermawanan, engkau lebih dermawan daripada air yang mengalir deras yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.

Umar bin Al-Khathab mendengar ucapan tersebut, maka hatinya bertambah duka dan terharu. Air matanya jatuh berderai, lalu berkata,  “Engkau benar! Demi Allah, ia memang seperti itu.”[41]
Khalid bin Al-Walid wafat pada tahun 21 Hijrah di Hims[42], Syria. Adapun usia Khalid saat meninggal terdapat perbezaan pendapat dalam riwayat ini.Ada yang berpendapat meninggal di usia 52 tahun[43]. Menurut pendapat yang paling unggul, umur khalid ketika meninggal dunia adalah 58 tahun[44]. Khalid bin Al- Walid wafat di masa kekhilafahan Umar bin Khatab dan Khalifah  Umar sangat berduka atas wafatnya Khalid.
Pada saat wafat, khalid tidak meninggalkan harta sedikitpun kecuali seekor kuda, senjata dan budaknya yang ia miliki.[45] Dan ada satu lagi yang tertinggal, iaitu suatu barang sangat dijaganya mati-matian,iaitu berupa kopiah yang didalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah yang membuatnya bersemangat dan berharap kemenangan dengan (keberkahan)nya.[46]
Khalid meninggal dunia dan pada saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mukminin, Umar bun Al-Khatab dia berkata: “semoga Allah memberikan rahmatnya kepada Abu Sulaiman, sesungguhnya di seperti apa yang kami perkirakan.” Dan disebutkan di dalam hadits riwayat Umar bin Al- Khatab tentang akat bahawa besinya dan perlengkapan berperangnya di jalan Allah.”

Lihat ⇾ Biografi Khalid al Walid Bahagian I  

Terjemahan Dari Bahasa Asal Indonesia:
Nursyarifah Syed Putera

Rujukan:
[23]Hakim, Khalid Bin Al-Walid, 21-26.
[24]Al-Waqidi, Kitab Al-Maghazi Muhammad Terj: Rudi G. Aswan (Jakarta: Zaytuna, 2012), 217- 218
[25]Aidh Bin „Abdullah Al-Qarni, Story Of The Message: Episode Terindah Dalam Kehidupan Muhammad SAW, Terj: Aiman Abdul Halim (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2008), 239.
[26]Ibnu Ishaq, Tahqiq dan Syarah: Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Terj: H. Samson Rahman (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2015), 487.
[27]Al-Waqidi, Kitab Al-Maghazi Muhammad, 233.
[28]Ibid., 232.
[29]Ibid., 237.
[30]Ibid., 241-244. Dan lihat pula di Al-Qarni, Story Of The Message, 249.
[31]Ibid., 763.
[32]Ibid.,764-766.
[33]Ibid., 774-775.
[34]Hakim, Khalid Bin Al-Walid, 259-261.
[35]Al-Waqidi, Kitab Al-Maghazi Muhammad, 782
[36]Al-Qarni, Story Of The Message, 338-339
[37]Hakim, Khalid Bin Al-Walid, 597.
[38]Ibid., 579.
[39]Ibid., 599.
[40]Ibid., 600.
[41] Khalid Muhammad Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi ,Terj: Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qurra, 2012), 319.
[42]Amin Bin Abdullah Asy-Syaqawi, Biografi Khalid Bin Walid Radhiyallhu’anhu: Terjemahan Muzaffar Sahidu (t.tp: t.th, 2010), 6. Himsh atau Homs, sebuah kota lama (Emesa) di Suriah
tengah. Tata Husain, Dua Tokoh Besar dalam Sejarah Islam Abu Bakar Dan Umar, Terj: Ali Audah (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), 101.
[43]Asy-Syaqawi, Biografi Khalid Bin Walid, 6.
[44]Hakim, Khalid Bin Al-Walid, 598.
[45]Ibid., 600.
[46]Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi, 319.

No comments:

Post a Comment