Keadaan Di Hari Akhirat - wannursyarifah

Keadaan Di Hari Akhirat

Keadaan Di Hari Akhirat 


Didalam suasana hari akhirat,ketika semua umat manusia bangun dan menunggu hari pengadilan yang hakiki,tempoh masa hari tersebut ditegakkan selama 40 tahun.Menurut

Abdullah bin Masud, melaporkan Rasulullah s.a.w bersabda,

Keadaan Di Hari Akhirat   “Allah mengumpulkan orang yang terdahulu dan orang yang kemudian untuk suatu hari yang sudah dijanjikan, yang ditegakkan selama empat puluh tahun. Pandangan mereka tertuju ke atas menunggu pengadilan. Lalu Allah turun dalam lindungan awan, dari Arsy ke Kursi. Kemudian ada penyeru yang berseru, ‘Wahai manusia, apakah kalian tidak reda terhadap Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian, memberi rezeki dan yang memerintahkan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu pun denganNya, sekiranya setiap orang di antara kalian meminta tolong kepada apa yang dahulunya mereka sembah di dunia, bukankah yang demikian itu merupakan keadilan dari Tuhan kalian?”

Mereka menjawab, “Benar.”

Beliau berkata, “Maka setiap kaum menghampiri apa yang dahulu mereka sembah.”

Mereka berkata, “Sewaktu di dunia.”

Beliau berkata, “Maka mereka pun beranjak pergi. Bagi mereka dibuatkan sesuatu yang menyerupai apa yang pernah mereka sembah. Di antara mereka ada yang menghampiri matahari, ada yang menghampiri rembulan, berhala dari berbatuan dan lain-lainnya dari hal-hal yang dahulu mereka sembah.”

Beliau berkata, “Orang yang menyembah Isa dibuat menyerupai syaitan Isa. Orang yang menyembah Uzair dibuat menyerupai syaitan Uzair, sementara Muhammad tetap bersama umatnya. Lalu Allah tampak dan menghampiri mereka, seraya bertanya, ‘Mengapa kalian tidak pergi seperti yang dilakukan oleh orang itu?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mempunyai Tuhan yang tidak pernah kami lihat.”

Allah bertanya, “Apakah kalian mengenalinya jika kalian melihatnya?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya di antara kami dengan Dia ada tanda. Jika kami melihat tanda itu, tentu kami mengenaliNya.”

Allah bertanya, “Apa tanda itu?”

Mereka menjawab, “Jika Dia menyingkapkan lenganNya.”

Maka Allah menyingkapkan lengan, sehingga siapa pun yang melihatNya menyungkur sujud. Ada segolongan orang yang seakan-akan punggung mereka tanduk lembu. Mereka ingin sujud namun tidak sanggup. Dan mereka dahulu ketika di dunia diseru untuk sujud. Dan mereka dalam keadaan sejahtera.

Kemudian Allah berfirman, “Angkatlah kepala kalian.”

Mereka pun mengangkat kepala. Mereka diberi cahaya dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang diberi cahaya seperti gunung yang besar, yang memancar di hadapannya, di antara mereka ada yang diberi cahaya lebih kecil dari itu. Dia antara mereka ada yang diberi cahaya seperti pohon kurma di tangannya. Di antara mereka ada yang diberi cahaya lebih kecil dari itu, hingga yang terakhir di antara mereka adalah seorang lelaki yang diberi cahaya seukuran jempol kakinya, terkadang menyala dan terkadang padam. Jika cahaya itu menyala, maka dia maju setapak, dan jika padam, dia hanya berdiri. Allah Taala berada di depan mereka berlalu di dalam api dan meninggalkan jejaknya seperti mata pedang.

Allah berfirman, “Berjalanlah kalian.”

Mereka pun berjalan berdasarkan cahayanya. Di antara mereka ada yang berlalu dalam sekejap mata, ada yang berlalu seperti kilat yang menyambar, ada yang berlalu seperti awam, ada yang berlalu seperti ekor binatang, ada yang berlalu seperti angin, ada yang berlalu seperti kuda, ada yang berlalu seperti unta, hingga orang yang diberi cahaya jempol kakinya, berlalu sambil merangkak dengan wajah, tangan dan kakinya, satu tangan tertelungkup, satunya lagi bergantungan, sementara sebahagian lambung terkena api neraka. Dia terus begitu hingga dia selamat. Jika dia sudah terbebas, maka dia berdiri di sana dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku apa yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun selain aku, kerana Dia telah menyelamatkan aku dari neraka, setelah aku melihatnya.

Beliau berkata, “Lalu dia bergerak pergi ke sebuah kolam dekat pintu syurga. Dia mandi di sana, hingga dia dapat mencium aroma para penghuni syurga dan melihat rupa mereka. Dia juga dapat melihat berbagai macam perhiasan yang ada di dalam syurga. Dia berkata, “Ya Rabbi, masukkanlah aku ke dalam syurga!”

Allah berfirman, “Apakah kamu meminta syurga padahal Aku sudah menyelamatkamu dari neraka?”

Dia berkata, “Ya Tuhan, buatlah pembatas di antara diriku dan neraka agar aku tidak mendengar suaranya.”

Lalu dia dimasukkan ke dalam syurga dan di hadapannya diperlihatkan sebuah tempat tinggal yang sepertinya di sana terdapat apa pun yang diingininya.

Dia berkata, “Ya Rabbi, berikanlah tempat tinggal itu kepadaku.”

Allah berfirman, “Boleh jadi jika Aku memberikan satu pintu kepadamu, maka kamu akan meminta yang lainnya lagi.”

Dia berkata, “Tidak demi kemulianMu, aku tidak akan meminta yang lainnya kepadaMu, sebab mana ada tempat tinggal yang lebih baik dari ini?”

Maka tempat tinggal itu diberikan kepadanya dan dia pun menetap di dalamnya. Kemudian di hadapannya diperlihatkan tempat tinggal yang lain yang sepertinya ada seperti yang diimpikan. Dia berkata, “Ya Tuhan, berikanlah kepadaku tempat tinggal itu.”

Allah berfirman, “Boleh jadi jika Aku memberikannya kepadamu, maka kamu akan meminta yang lainnya lagi.”

Dia berkata, “Tidak demi kemuliaanMu, sebab mana ada tempat tinggal ini?”

Maka tempat tinggal itu diberikan kepadanya. Setelah itu dia diam saja dan tidak meminta. Allah berfirman, “Mengapa kamu tidak meminta lagi?”

Dia menjawab, “Aku sudah meminta kepadaMu hingga aku merasa malu kepadaMu. Aku juga sudah bersumpah sehingga aku malu kepadaMu.

Allah berfirman, “Apakah kamu tidak reda jika Aku memberikan kepadamu yang seperti dunia semenjak ia diciptakan hingga saat membinasakannya. Bahkan sepuluh kali lipatnya lagi?”

Dia menjawab, “Apakah engkau mengolok-olokkan aku, sedang Engkau adalah Rabbul-Izzati?”

Allah tersenyum kerana mendengar perkataan hamba itu.

Bila kisah itu sampai disitu,saya akan turut tersenyum hingga mengeluarkan bunyi.Memang,biasalah begitulah.Malah,Rasulullah s.a.w pun turut tersenyum bila hal itu sampai dibahagian tersebut.

Setiap kali Abdullah bin Masud sampai ke bahagian ini, dia pun tersenyum. Maka ada seseorang bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman, aku sudah cukup sering mendengar engkau menyampaikan hadis ini, dan setiap kali sampai di bahagian ini, beliau tersenyum hingga menampakkan gigi gerahamnya.”
Beliau bersabda, lalu Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku berkuasa untuk melakukan hal itu. Kerana itu mintalah!”
Dia berkata, “Pertemukanlah aku dengan orang-orang.”
Allah berfirman, “Temuilah orang itu.”
Dengan tergopoh-gopoh dia berjalan di dalam syurga. Ketika dia semakin dekat dengan orang, di hadapannya terpampang istana dari mutiara. Maka seketika itu pula dia tersungkur sujud. Dikatakan kepadanya, “Aku melihat Tuhanmu atau Tuhanku tampak di hadapanku.”
Dikatakan kepadanya, “Itu adalah salah satu dari tempat tinggalmu.”
Ketika bertemu dengan seseorang, dia juga sudah bersiap-siap untuk sujud.
Maka dikatakan kepadanya, “Cukup.”
Dia berkata, “Aku melihat engkau adalah salah seorang dari para malaikat.”
Orang itu berkata, “Aku adalah salah seorang dari penjagamu, aku adalah salah seorang dari hambamu, dam aku membawahi seribu pelayan, yang semuanya seperti aku.”
Dia terus berjalan ke depan hingga pintu istana dibukakan baginya, yang terbuat dari mutiara, yang melengkung bentuk pintunya, atap dan penutup mahu pun pembuka pintunya. Bahagian depannya terbuat dari permata hijau yang bahagian dalamnya merah, terdiri dari tujuh puluh pintu. Di setiap pintu ada pelayan, isteri dan para budak, yang paling buruk di antara mereka adalah kulitnya yang putih dari jenis bidadari yang bermata jeli, mengenakan tujuh puluh jenis perhiasan, lengannya tembus pandang dan jantungnya berupa cermin. Jika dia memalingkan pandangan darinya barang sejenak, maka kecantikannya semakin bertambah hingga tujuh puluh kali dari keadaan sebelumnya. Dia berkata, “Demi Allah, kamu semakin bertambah cantik tujuh puluh kali.”
Bidadari itu membalas perkataannya, “Engkau pun bertambah tampan tujuh puluh kali.”
Umar berkata, “Apakah engkau tidak mendengar apa yang disampaikan Ibnu Ummi Abd kepada kita wahai Kaab, sehubungan dengan tempat tinggal para penghuni syurga? Bagaimana keadaan orang yang paling tinggi di antara mereka?”
Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, di dalamnya terdapat apa-apa yang tidak pernah dilihat mata dan didengar telinga. Sesungguhnya Allah menciptakan tempat tinggal yang di dalamnya terdapat apa sahaja yang diinginkan, berupa isteri, buah-buahan dan minuman, kemudian dicap, sehingga tidak dapat dilihat siapa pun, termasuk pula Jibrail dan para malaikat lainnya.”
Kemudian Kaab membaca ayat,
Maka tidak ada seseorang pun yang mengetahui satu persatu persediaan yang telah dirahsiakan untuk mereka (dari segala jenis nikmat) yang amat indah dipandang dan mengembirakan, sebagai balasan bagi amal-amal soleh yang mereka telah kerjakan.”
(as-sajdah : 17)
Dia berkata,
“Allah juga menciptakan yang lainnya lagi, berupa dua syurga berserta pilihannya menurut kehendakNya dan memperlihatkan siapa pun yang dikehendakiNya di antara makhlukNya. Siapa yang Kitabnya di Illiyin, maka dia ditempatkan di sana, yang sebelumnya tidak pernah dilihat siapa pun, termasuk juga para penghuni Illiyin lainnya. Dia berjalan di dalam kerajaannya.”
“Tidak ada tenda di antara tenda-tenda syurga melainkan dia memasukinya. Para penghuni syurga merasa gembira kerana aromanya. Mereka berkata, “Sungguh menakjubkan. Ini adalah aroma penghuni Illiyin, yang sedang berjalan di dalam kerajaannya.”
Umar berkata, “Celaka kamu wahai Kaab, Sesungguhnya hati orang ini sudah tenang, namun kemudian bergoncang lagi kerana melakukan ketaatan.”
Ungkapan Saidina Umar r.a bukanlah memarahi Kaab,akan tetapi bagi tafsiran peribadi saya membawa maksud,keinginan untuk segera mendapatkan syurga dan nikmat-nikmat syurga itu membuak-buak hingga bila melakukan ketaatan sekalipun,apabila seseorang mendengarkan perihal nikmat syurga,pasti hatinya bergoncang.Namun bukan bergoncang kerana ujian,akan tetapi bergoncang kerana melakukan ketaatan.Hati bila melakukan amal soleh,akan tenang,dama dan merasa cukup dengan apa yang ada (bersyukur).Namun bilamana diceritakan hal nikmat syurga,maka hati bergoncang lagi,hingga hati menjadi tidak tenang apabila memikirkan nikmat syurga yang tidak pernah-pernah pun disebut sebelumnya.Wallahualam.
Seterusnya Kaab berkata, “Sesunggunya neraka Jahannam, pada hari Kiamat mempunyai menakutkan. Siapa pun malaikat atau nabi yang diutus, termasuk Ibrahim al-Khalil gementar kedua lututnya, hingga dia berkata, “Ya Tuhanku, diriku, diriku. Sekalipun kamu mempunyai amalan sebanyak tujuh puluh nabi, tentu kamu menganggap dirimu tidak akan selamat.”(Direkodkan oleh At-Tobrani)
Keadaan Di Hari Akhirat Kisah diatas termasuk kisah-kisah yang saya sendiri suka membaca,berulang-ulang membaca.Setiap kali sampai di bahagian tengah,maka saya akan tersenyum mengenangkan seorang manusia yang merasakan dia sedang diperolok-olakan.Sedangkan,jika dia meminta apa pun,tentulah Allah s.w.t akan memenuhi permintaanya.Sesungguhnya Allah s.w.t suka jika hamba-Nya hanya meminta segala sesuatu kepada-Nya semata-mata.Wallahualam.
Didalam kisah ini,saya turut merasakan sangat-sangat terharu.Iiatu bilamana Allah s.w.t berfirman, “Mengapa kamu tidak meminta lagi?” 


Keadaan Di Hari Akhirat Keadaan Di Hari Akhirat Reviewed by Nursyarifah Syed Putera on 3/01/2016 09:44:00 AM Rating: 5

No comments