Hukum Puasa Bagi Orang Yang Sakit

Hukum Puasa Bagi Orang Yang Sakit

Kewajipan berpuasa di bulan ramadhan dan keringanan bagi yang sakit
Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berrkata : “Para sahabat kami (yakni para ulama madzhab Syafi’iyyah) berkata : “Syarat dibolehkannya berbuka (bagi orang yang sakit) adalah adanya masyaqqoh (rasa sulit/berat) yang ditanggungnya ketika melakukan puasa tersebut. Adapun sakit yang ringan yang tidak ada masyaqqoh yang nampak yang dirasakannya ketika berpuasa, maka tidak boleh baginya untuk berbuka/tidak berpuasa, dalam masalah ini tidak ada khilaf (perselisihan) di sisi kami (madzhab as-Syafi’i), berbeda dengan pendapatnya Ahlu Dhohir (madzhab Dhohiriyyah).” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/257)

Dalam menjalankan ibadah wajib,masih terdapat keringanan yang Allah s.w.t tetapkan,iaitu bagi orang-orang yang terdapat didalam dirinya perkara-perkara yang membolehkan keringanan untuk melakukan ibadah wajib,Misalnya sedang sakit.Dan makna sakit ini juga dibahaskan kepada beberapa cabang,sakit berat seperti berlaku pendarahan,lepas pembedahan,dan seumpamanya yang boleh menjejaskan dirinya yang selalunya sakit ini pada peringkat ini memelukan rawatan yang khusus seperti pengambilan ubat yang memelukan proses penyembuhan.Dan satu lagi adalah sakit yang ringan,seperti tidak memelukan pengambilan ubat misalnya,atau pengambilan ubat boleh dijarakan waktunya,dan banyak lagi yang dipecahkan kepada beberapa cabang agar orang yang dalam keadaan sakit,tidak perlu gusar hatinya sekiranya mereka tidak dapat beribadah wajib kerana sebahagian daripadanya,ada terdapat keringanan yang Allah s.w.t tetapkan.

orang-orang yang sakit tenat yang tidak membolehkan dia berpuasa, malah tidak sukar baginya mengerjakan solat fardu. Mereka dibolehkan tidak berpuasa, dan menggantikan puasa yg ditinggalkannya ketika sudah waras atau ketika sudah sembuh penyaitkan bagi hari-hari yang dia tak berpuasa[1]

Nas - Orang-orang yg dibolehkan tak berpuasa. 

Diriwayatkan hadith daripada Ibnu Abbas (r.a) ‘wa-‘alal-lazina yutiqunahu fidyatun ta’amul miskinin’ [Ayat 183, Surah al-Baqarah][Maksud ayat: (Seperti di atas)], berkata: ‘Adapun kemurahan (diberikan kepada) (golongan pertama) orang-orang tua yang sangat tua dan (golongan kedua) perempuan yang terlalu tua, dan kedua-duanya berupaya berpuasa bahawasanya berbuka (yakni, tidak berpuasa mereka) dan memberi makan sebagai ganti tiap-tiap hari orang-orang miskindan (juga, diberi kelonggaran tidak berpuasa kepada) (golongan ketiga)perempuan yang mengandung dan yang menyusukan anaknya ketika khuatir  mereka (yakni, jika berpuasa akan memudaratkan anaknya).’Hadith Abu Daud.

Nas - Puasa Fardu (ramadhan) itu Wajib diniatkan sebelum siang. 

Diriwayatkan hadith daripada Hafsah (r.ah) katanya hadith daripada Nabi (s.a.w) bersabda: ‘Barangsiapa tiada berniat (puasa) dahulu daripada fajr (yakni, sebelum waktu Subuh) maka tiada puasa baginya.Hadith sahih at-Termidzi

Diriwayatkan hadith adripada Ibnu Syihab daripada Salim Ibni Abdillah, hadith daripada bapanya, hadith daripada Hafsah (r.ah), isteri Nabi (s.a.w), berkata: ‘Bahawasanya Rasulallah (s.a.w) bersabda: ‘Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajr (subuh), maka tiada puasa baginya.’ Hadith Abu Daud, Kitab Saum.

Keadaan Orang Yang Sakit
Ketahuilah, bahwa dalam kaitannya dengan ibadah puasa Romadhon, maka orang yang sakit itu mempuyai dua keadaan :
Pertama : Orang sakit yang keadaannya tidak mampu berpuasa sama sekali, maka berbuka/tidak berpuasa baginya adalah wajib.
Kedua : Orang sakit yang masih mampu berpuasa, akan tetapi bisa membahayakan sakitnya atau sangat memberatkan dirinya apabila berpuasa. Dalam keadaan seperti ini, disunnahkan baginya untuk berbuka/tidak berpuasa. (lihat Tafsir Al-Qurthubi (2/276), karya Al-Imam Al-Qurthubi rohimahulloh)[2]

Bagaimanakah ketentuan sakit yang dibolehkan / diberi keringanan untuk tidak berpuasa itu ?

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berrkata : “Para sahabat kami (yakni para ulama madzhab Syafi’iyyah) berkata : “Syarat dibolehkannya berbuka (bagi orang yang sakit) adalah adanya masyaqqoh (rasa sulit/berat) yang ditanggungnya ketika melakukan puasa tersebut. Adapun sakit yang ringan yang tidak ada masyaqqoh yang nampak yang dirasakannya ketika berpuasa, maka tidak boleh baginya untuk berbuka/tidak berpuasa, dalam masalah ini tidak ada khilaf (perselisihan) di sisi kami (madzhab as-Syafi’i), berbeda dengan pendapatnya Ahlu Dhohir (madzhab Dhohiriyyah).” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/257)
Dan apa yang telah ditetapkan oleh para ulama Syafi’iyyah tersebut di atas, hal itu juga merupakan madzhabnya para ulama Hanabilah (pengikut pendapat Imam Ahmad bin Hambal) sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Qudamah rohimahulloh, dan juga madzhabnya Malikiyyah (pengikut pendapat Imam Malik) sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi rohimahulloh. Kemudian juga pendapatnya Al-Imam Al-Mardawy rohimahulloh, wallohu a’lam.
(Lihat : Al-Inshof (3/257-258), Al-Mughni (3/41) dan Tafsir Al-Qurthubi (2/276) )

Tentang Orang Sakit Yang Tidak Bisa Diharapkan Kesembuhannya

Imam An-Nawawi rohimahulloh mengatakan : “Hukumnya adalah sama seperti orang tua yang lemah yang tidak mampu berpuasa sama sekali, tentang hal ini tidak ada khilaf (diantara para ulama).”  (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/258-259)
Lalu apa yang diwajibkan baginya dalam keadaannya seperti itu ? Insya Alloh akan dijelaskan lebih luas pada pembahasan tentang Puasanya Orang-Orang Yang Lemah, wallohu a’lam.
Orang Sakit Yang Tidak Bisa Diharapkan Kesembuhannya, dia tidak berpuasa. Lalu suatu saat dia merasa mampu berpuasa, maka dia pun berpuasa, maka apakah ada kewajiban untuk mengqodho’ baginya atas puasa yang ditinggalkannya ?
Dalam masalah ini, ada dua pendapat di kalangan para ulama madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah. Yang shohih dari keduanya adalah : Wajib baginya untuk mengqodho’ (membayar hutang puasanya), karena memberi makan (kepada orang miskin, yakni fidyah) adalah ganti atas kelemahannya (ketidakmampuannya berpuasa), dan telah jelas bagi kita (dalam keadaannya sekarang ini) hilangnya kelemahan/ketidakmampuannya tersebut.
Pendapat seperti itulah yang dirojihkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh, sebagaimana yang disampaikan beliau dalam salah satu pelajaran beliau. Alloh Subahanhu wa ta’ala berfirman :
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (١٨٤)
“Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (QS Al-Baqoroh : 184)
Dan kita mahu tahu mengenai ukuran ataupun kaedah penentukan sejauh mana sakit itu dibolehkan untuk tidak berpuasa pada bulan ramadhan kelak,

Pendapat Para Ulama

  • Majoriti ulama sependapat bahwa yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa adalah orang yang sakit parah yang dapat memperparah penyakitnya jika ia tetap memaksakan diri untuk berpuasa. Para ulama mendasarkan pendapat mereka pada dua ayat di atas.

  • Ibnu Qudamah mengatakan dalam al Mughni, Madzhab Bukhari, Atha’ dan ulama Zahiriyyah membolehkan seseorang berbuka karena segala macam rasa sakit, bahkan karena telunjuk jari atau gusi yang sakit berdasarkan keumuman ayat tentang masalah ini.[3]

Dalil-dalil.

Dalam Al Qur’an dijelaskan:
  • QS. Al Baqarah, ayat 185:
    Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkanya itu, pada hari-hari yang lain.
  • QS. An Nisa, ayat 29:
    Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.
Bila di pagi hari dia sembuh dan berpuasa, lalu dia sakit lagi. Apa yang harus dilakukannya ?
Imam An-Nawawi mengatakan : “Boleh baginya berbuka/tidak puasa, tanpa adanya khilaf (perselisihan) di kalangan ulama.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/258)
Al-Mardawy rohimahulloh menukilkan ijma’ (kesepakatan para ulama) atas disunnahkannya berbuka/tidak berpuasa (bagi orang sakit seperti keadaan di atas, edt.)  (Al-Inshof, 3/257)
Bila orang sakit tersebut merasa mampu berpuasa, lalu dia berpuasa, apa hukumnya ?
Al-Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh berkata : “Kesepakatan mereka (para ulama) adalah bahwa orang sakit yang merasa mampu berpuasa lalu dia pun berpuasa hingga sempurna satu hari, maka puasanya itu mencukupi (yakni sah puasanya). (At-Tamhid, 7/235)
Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh mengomentari apa yang dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh di atas tentang adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah tersebut : “Kenyataannya, ada khilaf (perselisihan para ulama tentang masalah tersebut). Yang menyelisihi pendapat di atas adalah Ibnu Hazm rohimahulloh. Beliau berkata : “Puasanya itu tidak mencukupi (tidak sah).” Tetapi pendapat yang shohih adalah puasanya sah !” (Ittihaaful Anam, hal. 139)
Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata : “Bila orang yang sakit membebani dirinya (merasa mampu) berpuasa kemudian benar-benar berpuasa, maka dia telah melakukan sesuatu yang makruh (dibenci), dikarenakan dia melakukan hal-hal yang mengandung madhorot (sesuatu yang membahayakan) pada dirinya dan meninggalkan keringanan dari Alloh ta’ala serta (meninggalkan) rukhshoh. (Maka meski demikian) puasanya tetap sah dan mencukupi, karena dia bersungguh-sungguh (benar-benar melakukannya) dan boleh baginya untuk meninggalkan rukhshoh (keringan tersebut). Bila dia membebani dirinya (memaksa diri untuk berpuasa), maka puasanya itu mencukupi (sah), sebagaimana orang yang sakit yang diberi rukhshoh untuk tidak sholat jum’at, tetapi dia meninggalkan rukhshoh tersebut dengan menghadiri sholat jum’at (maka sholat jum’atnya tersebut sah, edt.). Demikian pula seperti orang yang dibolehkan untuk tidak berdiri dalam sholat (karena udzur/sakit tertentu), apabila dia tetap sholat dengan berdiri (maka sholatnya tersebut sah,edt.).” (Al-Mughni, 3/42)
(lihat pula As-Syarhul Mumti’ (6/353) karya Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh)
Sebenarnya banyak lagi yang ingin di kongsikan disini,inn syaAllah dalam artikel dan siri yang lainlah pula.Dan sebahagian darinya saya ambil untuk dikongsikan sebagai panduan kita,agar kita tidak pula merasa susah hati.Kerana mungkin dikalangan kita ada yang sakit,jadi merasa susah hati antara perasaan susah hati itu adalah,harus makan ubat pada jam 1 tengahhari misalnyalah,jadi jika tidak makan,badan akan sakit,tapi pada masa sama,seruan untuk puasa ramadhan diwajibkan,maka Allah s.w.t awal-awal lagi telah menetapkan keringanan untuk hamba-Nya.

Maka didalam al-Quran itu,bukan sekadar,bahan-bahan bacaan sahaja,didalamnya ada garis-garis pertunjuk yang lengkap.Jika Allah menceritakan perihal dibawah dasar laut,maka mengapa hal berkaitan puasa Allah tidak nyatakan ? namun,andai kata bahasa Quran itu terlalu sukar untuk kita fahami,Allah s.w.t awal-awal telah nyatakan,tanyakanlah kepada ahlinya,barangkali pada ahlinya itu,Allah limpahkan kefahaman untuk kita,inn syaAllah.Jazzakallahu khair.

Jaga kesihatan | Amalkan gaya hidup sihat 
ibadah,ibadah juga,kesihatan itu adalah amanah,jaga amanah

[1]http://yayasan-ilmu.blogspot.my/2011/07/puasa-ramadhan-siapa-dibolehkan-tak.html
[2]http://www.darul-ilmi.com/2013/07/hukum-puasanya-orang-yang-sakit/
[3]http://hukum-islam.com/2013/07/hukum-puasa-bagi-orang-sakit/
Hukum Puasa Bagi Orang Yang Sakit Hukum Puasa Bagi Orang Yang Sakit Reviewed by Nursyarifah Syed Putera on 09:00 Rating: 5

No comments